25/01/2023 7:30 am, by ICSP Editor

ADADIMALANG – Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan Emisi Gas Ruang Kaca (GRK), namun sejauh ini masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) bekerjasama dengan National Center for Corporate Reporting (NCCR) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) menggelar Seminar Nasional Berkelanjutan yang mengusung tema ‘Pengendalian Emisi Gas Ruang Kaca Melalui Mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (NEK)’ pagi hari tadi, Sabtu (14/01/2023).

Kegiatan yang digelar secara luring di Gedung Pasca Sarjana FEB UB ini juga disiarkan secara virtual sehingga dapat diikuti banyak peserta dari berbagai wilayah di Indonesia termasuk dari luar negeri.

Ketua Institute of Certified Sustainability Pracititioners (ICSP), Prof. Eko Ganis Sukoharsono, Mcom (Accy), Mcom-Hons, Ph.D dalam sambutannya menyampaikan hingga saat ini terdata ada sekitar 2.643 anggota ICSP yang tersebar di wilayah Inonesia hingga Asia Pasifik yang sebagian besar mengikuti seminar nasional tersebut.

Ketua Institute of Certified Sustainability Pracititioners (ICSP), Prof. Eko Ganis Sukoharsono, Mcom (Accy), Mcom-Hons, Ph.D saat memberikan sambutan dalam kegiatan seminar pagi tadi (Foto : AdaDiMalang.com/Agus Yuwono)

“Kegiatan ini penyelenggaraan seharusnya di akhir tahun atau bulan Desember 2022 lalu namun terpaksa kita undur namun sepertinya cocok sekali di Bulan Januari 2023 ini. Sehingga kita dapat melakukan upaya-upaya untuk melakukan implementasi dan desiminasi yang lebih intensif berkaitan dengan aspek gas rumah kaca, dimana kali ini kita bahas dalam seminar nasional,” ungkap Eko Ganis Sukoharsono.

Menurut pria yang juga pengajar di FEB UB ini, Universitas Brawijaya tentunya sangat berkepentingan terkait dengan pengurangan emisi gas ruang kaca dimana Universitas Brawijaya memiliki UB Forest yang memerlukan banyak pemikiran untuk pengelolaannya.

“Mengelola hutan UB Forest ini tidaklah mudah dan tidak kecil biaya yang dikeluarkan untuk memeliharanya sehingga kita juga harus berpikir bagaimana kita mencari kompensasi. Termasuk berfikir tentang Nilai Ekonomi Karbon dimana UB Forest itu menjadi bagian di dalam Karbon Market,” ungkap Eko Ganis.

Hingga saat ini menurut Eko, di Indonesia hanya ada satu project yang disebut dengan Katingan untuk merestorasi lahan gambut yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, sehingga UB Forest juga diharapkan dapat turut memberikan peran yang signifikan dalam pengurangan emisi karbon dengan potensi yang dimilikinya.

Sebelum membuka Seminar Nasional tersebut, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, SSi., MSi., Ph.D., Med.Sc menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi pelaksanaan Seminar Nasional terkait Emisi Gas Ruang Kaca di Universitas Brawijaya tersebut.

“Ini kehormatan bagi UB karena ada kegiatan yang membahas tentang sustainability, dan mau tidak mau kita sebagai bagian dari Indonesia harus memikirkan sustainability itu,” ungkap Prof. Widodo.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, SSi., MSi., Ph.D., Med.Sc. saat membuka Seminar Nasional Berkelanjutan pagi tadi (Foto : AdaDiMalang.com/Agus Yuwono)

Tingginya emisi GRK diakui mayoritas merupakan hasil dari usaha manusia, tetapi Prof. WIdodo menegaskan bumi juga mengalami proses recovery sehingga sudah didesain memiliki siklus yang akan ada terus-menerus sehingga survival bumi itu akan tetap terjaga.

“Selama ini kita terlalu terfokus pada kerusakan yang terjadi di atas tanah, padahal penyuplai oksigen terbesar kita sekitar 50 hingga 60 persen itu berasal dari lautan. Jika kita maintance quality di perairan maka itu sudah menjadi bagian sustainability wilayah kita. Jangan sampai perairan ini rusak karena ulah manusia dimana kerusakan dari lingkungan laut ini jauh lebih dahsyat dampaknya dari pada kerusakan di atas permukaan tanah seperti hutan dan lain sebagainya,” ujar Prof. Widodo.

Terkait emisi karbon, Rektor UB ini menegaskan emisi karbon perkapita Indonesia masih termasuk rendah dan kebijakan pemerintah juga cukup bagus, namun memerlukan upaya agar tidak over yang akan berdampak pada tingkat competitiveness yang menjadi rendah.

Dalam Seminar Nasional tersebut juga akan digelar diskusi panel Diskusi Panel yang menghadirkan tiga panelis yakni Dr. Wahyu Marjaka, M. Eng selaku Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional KLHK, Martinus Haryo Sutejo, ST., M.Sc., selaku CSRA ESG & Carbon Accounting Expert, PT Surveyor Indonesia dan Dr. Ali Darwin, Ak., M.Sc. CSRA yang merupakan Direktur Eksekutif, ESG Academy, National Center for Corporate Reporting (NCCR). (A.Y)


Sumber : https://adadimalang.com/34319/icsp-nccr-dan-ub-bahas-upaya-menekan-emisi-grk.html

Categorised in . Submitted by ICSP Editor

Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) is an organization for Sustainability Practitioners. Established to educate professionals preserving natural and social capital resources by using principle professional guidelines.

Learn More

  PARTNERS

NCSR was established in 2005 by government bodies, corporations and individuals in early recognition of the need to develop competency in sustainability within Indonesia. In 2007, the Government of Indonesia included a requirement for conducting some sustainability actions and reporting on those actions for some private and public corporations. Since its inception, NCSR has remained updated on global sustainability issues, becoming a GRI Certified Training Partner and GRI Data Partner. NCSR has run the Indonesia Sustainability Reporting Awards since 2005.

If you have further question, please do not hesitate to contact us.